Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Inkarnasi & Deifikasi Menurut St. Maximus the Confessor

Inkarnasi adalah penampakan Tuhan dalam daging; Tuhan bekerja di antara manusia ciptaan-Nya dalam rupa manusia. Jadi, agar Tuhan berinkarnasi, pertama-tama Dia harus menjadi daging, daging dengan kemanusiaan yang normal; ini adalah prasyarat paling mendasar. Faktanya, implikasi dari inkarnasi Tuhan adalah bahwa Tuhan hidup dan bekerja dalam daging, Tuhan di dalam esensi-Nya menjadi daging, menjadi seorang manusia.

Maximus mengatakan ada 5 bagian penting di dalam inkarnasi, di antara lain:

  1. Inkarnasi Yesus Kristus merupakan kunci dari segala kehidupan manusia.
  2. Inkarnasi adalah wadah atau sarana mengenal pribadi Allah.
  3. Inkarnasi merupakan wujud dari karya Allah Tritunggal 
  4. Inkarnasi  adalah proses pengosongan diri. 
  5. Inkarnasi dihidupkan oleh setiap orang yang memiliki kepercayaan kepada Tuhan.

Deifikasi  

Menurut Maximus ada beberapa poin penting yang akan dipelajari mengenai deifikasi, yakni:

  1. Deifikasi terjadi karena keikutsertaan (partisipasi) di dalam Tuhan. 

Allah menciptakan manusia dengan beberapa atribut, diantaranya:

  1. Makhluk (being)
  2. Makhluk abadi (eternal being)
  3. Kebaikan 
  4. Kebijaksanaan

Makhluk dan makhluk abdi merupakan esensi manusia atau kodratnya manusia. Dan kebaikan serta kebijaksanaan merupakan pemberian yang diberikan sebagai kemampuan kehendak manusia. Manusia taat kepada Tuhan dengan berpartisipasi dalam atribut yang diberikan Allah kepada diri mereka. Maximus juga mengatakan bahwa deifikasi dengan partisipasi memiliki hubungan erat. Seperti halnya hubungan manusia dengan Allah. Tuhan pemberi dan manusia yang menerima. Demikian halnya dengan atribut-atribut yang diberikan Tuhan, manusia telah menerima banyak hal dari Tuhan, kemudian manusia harus mengerjakan bagian dari perintah yang Tuhan telah berikan. Misalnya kebijaksanaan, manusia ketika menjalankan kehidupannya perlu bijak untuk mengerjakan atribut yang diberikan Tuhan. Demikian juga halnya atribut-atribut lainnya. Manusia hanya perlu taat mengerjakan semuanya itu. Hasil dari semua itu dapat dikerjakan melalui askesis. Manusia akan diam di dalam Allah. Maximus juga mengatakan bahwa dalam mencapai deifikasi, manusia perlu memurnikan intelek melalui hikmat yang diberikan Tuhan. Sehingga orang percaya mencapai pengilahian melalui praktik kebajikan serta iman yang benar, dan takut kepada Tuhan, bekerja bersama, mengarah ke spiritual ke dalam Allah. Selain partisipasi dalam Allah, dalam konsep Maximus bahwa pengilahian hanya dimungkinkan melalui inkarnasi Kristus. Logos, kata Maximus, turun ke bumi dan naik ke surga demi kita. Melalui inkarnasinya, Logos telah mencapai semua yang dapat dicapai manusia. Logos menjadi anak manusia dan manusia sehingga ia dapat menjadikan manusia sebagai ilahi dan anak-anak Allah oleh energi. Karena inkarnasi dari Logos, orang percaya diberdayakan untuk percaya bahwa mereka akan mencapai tempat di mana Kristus berada, di mana Dia telah pergi kepada Bapa sebagai pelopor manusia, membuka jalan bagi orang lain untuk mengikutinya.

  1. Deifikasi akan memurnikan 

Pemurnian hati merupakan persiapan awal untuk berkembang dalam hidup rohani. Proses ini akan dialami oleh orang-orang yang mengikuti Yesus Kristus supaya tidak mendua hati. Demikian juga halnya di saat kita percaya kepada Allah, mengampuni kesalahan orang lain, dan mengikuti Kristus, yang menuntun kita ke atas dalam kasih dan keinginan yang suci. Mereka yang mengikuti Kristus, dalam ketaatan pada kehendak Bapa, dijadikan sesama penyembah dengan para malaikat, mencerminkan perbuatan mereka yang berpusat pada Allah di surga. Kemudian Kristus “membawa kita lebih jauh lagi pada pendakian tertinggi kebenaran ilahi kepada Bapa segala terang, dan membuat kita berbagi dalam kodrat ilahi (lihat 2 Pet 1:4) melalui partisipasi oleh anugerah dalam Roh Kudus. percaya bahwa Allah Bapa,  Allah Anak dan Allah Roh Kudus adalah satu  pribadi,  satu kesatuan yang sering kita sebut sebagai Trinitas. Roh Kudus adalah pribadi Ilahi dan Dia memiliki  perasaan,  pikiran serta keinginan.  Sebab itu Alkitab mengajarkan untuk kita jangan mendukakan Roh Kudus,  karena   tindakan kita bisa melukai perasaan Allah Roh Kudus. Pertama kali pengikut Kristus mengalami perjumpaan dengan Roh Kudus adalah saat kita bertobat. Karena Roh Kuduslah yang menginsafkan kita akan dosa dan membuat kita sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa penebusan Yesus Kristus (Yohanes 16:8-11). Setelah kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka saat itu juga kita menerima Roh Kudus dalam hidup kita (Kisah Para Rasul 2:38).

  1. Deifikasi adalah reciprocity atau hubungan timbal balik

Berbicara tentang hubungan timbal balik maka perlu sekali mengerti apa maksud kalimat itu. Hubungan seperti ini adalah hubungan antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok. Dalam hubungan timbal balik ada kewajiban yang harus dilakukan, yaitu membalas apa yang telah diberikan oleh pihak yang melakukan kerjasama. Antara inkarnasi dan deifikasi memiliki hubungan timbal balik. Inkarnasi Kristus yang memungkinkan pengilahian. Melalui penyatuan kodrat ilahi dan kodrat manusia di dalam Kristus, manusia dimampukan untuk berpartisipasi dalam kodrat ilahi. Kedua, pemahaman Maximus tentang kristologi menginformasikan ajarannya tentang pengilahian. Dengan demikian Logos yang menjadi manusia akan mengilahikan kodrat manusia tanpa mengubahnya menjadi kodrat keilahian. Manusia dilahirkan atau proses inkarnasi di dalam diri kita bisa terjadi karena kasih karunia dari Roh Kudus, sehingga disini aspek Roh Kudus jg turut berperan seperti halnya Inkarnasi Kristus dlm daging Maria hanya dimungkinkan oleh Roh Kudus.

Maximus mengatakan bahwa Logos membawa kita naik kepada Bapa, memungkinkan kita untuk berbagi dalam kodrat ilahi (2 Pet 1:4) melalui partisipasi oleh kasih karunia dalam Roh Kudus. Karena partisipasi ini, Maximus menjelaskan, kita disebut anak-anak Allah, dibersihkan dari dosa, dan menyembah Allah yang melimpahkan rahmat itu kepada manusia. Maximus, dengan cara yang menyerupai Origen dan Gregorius dari Nyssa, menggambarkan perjalanan menuju Allah sebagai persimpangan dinamis tanpa akhir. Melalui kehidupan moral, seseorang berorientasi kepada Allah. Dan karena partisipasi dalam Roh Kudus melalui baptisan, Kristus menganugerahkan orang percaya untuk hidup dalam persahabatan yang erat dengan dia, yang akhirnya membawanya ke poin berbagi dalam atribut Allah. Oleh karena itu, dalam perspektif Maximus, pengilahian dipahami sebagai pendakian menuju tingkat penyatuan yang lebih tinggi dan keintiman yang semakin meningkat dengan Allah. Mengingat tentang kejatuhan manusia semakin jauh dari kodrat yang diinginkan Allah, pengilahian juga dapat dipahami sebagai kembali pada asal-usul kita. Seperti yang dijelaskan Maximus, keserupaan ilahi yang hilang karena dosa Adam dipulihkan pada umat manusia melalui inkarnasi dan kehidupan kudus dari Kristus.

Laporan: 

  • 7 artikel sudah saya baca
  • Membaca doa sudah saya lakukan 
  • Berdoa rutin
  • Mendengarkan doa paraleksis 

Referensi 

Diterbitkan oleh windadianhartatizebua

Cari tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: